"Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS Al Hujurat :13)
Dalam ayat al-Qur'an di atas ada istilah "Perkenalan" atau dalam bahasa arabnya adalah "Ta'aruf", di dalam ayat al-Qur'an ini makna perkenalan adalah umum, artinya bisa mencakup perkenalan dalam berbagai aspek, seperti halnya dalam berbisnis, kita harus tahu atau lebih tepatnya harus mengenal dengan siapakah kita berbisnis inilah pengertian Ta'aruf/perkenalan dalam ayat di atas.
Terlepas dari itu semuanya karena judul di atas Ta'aruf VS Pacaran jadi kita ambil ngetrennya aja ya atau populernya, Istilah Ta'aruf sekarang lebih ngetren atau populer di gunakan sebagai saling mengenalnya antara laki-laki dengan perempuan untuk mengenal satu sama lain dengan batasan-batasan yang diperbolehkan
oleh syariat. Tujuan akhirnya ialah menggapai pernikahan yang langgeng
dan membentuk keluarga yang Sakinah, mawaddah, rahmah, dan
barakah.
Di lain pihak ada juga Istilah Pacaran dan ini sudah tidak asing lagi
di telinga anak muda zaman sekarang. Pacaran dimaksudkan mengenal lawan
jenis dengan dalih untuk mengenal pribadi masing-masing. Padahal
kenyataannya, hanya sedikit kejujuran yang ditampakkan pada saat
pacaran. Rasa takut yang besar untuk ditinggal pasangannya atau hendak
mengambil hati pasangannya membuat mereka menyembunyikan keburukan yang
terdapat dalam dirinya.
Sudah menjadi rahasia umum, jika usia
pacaran yang lama tak menjamin bahwa itu menjadi suatu jalan untuk
memuluskan hubungan menuju jenjang pernikahan. Sudah tak menjamin adanya
pernikahan setelah sekian lama menjalin masa pacaran, juga banyak
dibumbui pelanggaran terhadap rambu-rambu Allah. Maksiat yang terasa
nikmat. Zaman sekarang, berpacaran sudah selayaknya menjadi pasangan
Suami Istri. Si Pria seolah menjadi hak milik wanita dan Si Wanita
kepunyaan pribadi Si Pria. Merekapun bebas melakukan apapun sesuai
keinginan mereka.
Yang terparah adalah sudah hilangnya
rasa malu ketika melakukan hubungan Suami Istri dengan Sang Pacar yang
notabene bukan mahram. Padahal pengesahan hubungan berpacaran hanya
berupa ucapan yang biasa disebut “nembak”, misalnya “I Love You, maukah
kau menjadi pacarku?” dan diterima dengan ucapan “I Love You too, aku
mau jadi pacarmu”. Atau sejenisnya. Hanya itu. Tanpa adanya perjanjian
yang kuat (mitsaqan ghaliza) antara seorang hamba dengan Sang Pencipta.
Tanpa adanya akad yang menghalalkan hubungan tersebut.
Dalam Islam tidak pernah dikenal istilah
pacaran, ngapel dan sebagainya. Yang dikenal adalah Ta’aruf (perkenalan dalam arti luas). dan di era sekarang Ta'aruf lebih di artikan kepada saling mengenal satu sama lain dengan batasan-batasan yang diperbolehkan
oleh syariat. Tujuan akhirnya ialah menggapai pernikahan yang langgeng
dan membentuk keluarga yang Sakinah, mawaddah, rahmah, dan
barakah. Oleh karena itu Islam memiliki rambu-rambu yang jelas dalam
masalah ini.
Allah memberikan rizki sesuai dengan
kebutuhan hambaNya dan di waktu yang menurut Allah terbaik untuk kita
mendapatkannya. Jodoh adalah salah satu rizki yang Allah persiapkan
untuk kita. Allah akan memberikan jodoh pada kita di saat yang tepat.
Bukan sesuai dengan keinginan kita. Seringnya kita menginginkan sesuatu
hanya berdasarkan pada keinginan bukan pada kebutuhan. Allah Maha Tahu,
kapan kita akan siap untuk menerima sebuah tanggung jawab besar untuk
membentuk suatu peradaban kecil yang dimulai dari sebuah keluarga.
Karena menikah bukan hanya penyatuan dua
insan berbeda dalam satu bahtera tanpa visi dan tujuan yang pasti,
berlayar tanpa arah atau berlayar hanya menuju samudera duniawi. Menikah
adalah penggenapan setengah agama karena menikah adalah sarana ibadah
kepada Allah. Dalam tiap perbuatan di dalam rumah tangga dengan
berdasarkan keikhlasan dan ketaqwaan maka ganjarannya adalah pahala.
Tapi jika menikah hanya berdasarkan nafsu atau bahkan mengikuti
perputaran kehidupan dunia, maka hasilnya pun akan sesuai dengan yang
diniatkan.
Karena menikah adalah ibadah. Menikah
adalah sunnah yang dianjurkan Rasulullah saw. Menimbun pahala yang
terserak di dalam rumah tangga. Dan semua manusia yang normal pasti akan
mendambakan suatu pernikahan. Merasakan suatu episode hidup dimana kita
akan memulai segala sesuatu yang baru. Yang dahulu kita berperan
sebagai seorang anak dengan berbagai kebahagiaan bermandikan kasih
sayang orang tua. Maka menikah adalah suatu gerbang menuju pembelajaran
menjadi orang tua kelak. Kita bukan lagi sebagai penumpang dimana
mengikuti arah kehidupan yang ditentukan orang tua, melainkan kita akan
menjadi driver untuk kehidupan kita sendiri kelak. Kita bisa
saja mengikuti jalur yang telah dilewati orang tua, jika memang itu
jalur yang tepat. Tapi jika jalur itu tak sesuai dengan arah tujuan
kehidupan rumah tangga kita yaitu jalur keridhoan Allah, maka kita pun
harus mencari jalur yang tepat.
0 komentar:
Posting Komentar