Selasa, 06 Maret 2012

Tentang Ridwan First



Nama aku menurut ibu aku adalah Wawan Ahmad Ridwan, sedangkan dalam Akte Kelahiran tertera nama Muhammad Wawan Ridwan.

Ibuku bilang juga kalau aku di lahirkan pada hari Rabu sekitar jam 04:00 pagi pada tanggal 10 Jumadi Tsani 1401 Hijriyah itulah yang ibu aku ingat, sedangkan tahun masehinya dia tidak tahu, tapi berdasarkan Akte Kelahiran tertera jelas kalau aku di lahirkan pada tanggal 12 Agustus 1982.

Berdasarkan dua pendapat itu maka aku lebih memilih kaul yang lebih kuat bahkan sudah terdaftar di pemerintahan Republik Indonesia, apalagi Akte Kelahiran merupakan evidence yang bisa di pertanggung jawabkan....ia kan, apa kalian belum percaya juga, masa aku harus mengeluarkan qaidah ushul fiqh segala sih...

Maka sejak itulah namaku Muhammad Wawan Ridwan lahir pada tanggal 12 Agustus 1982, aku di lahirkan di kampung kecil dengan penduduk hanya sekitar 40 rumah pada saat itu yaitu di kampung Balandongan, sebuah kampung yang belum ada listrik, belum ada jalan buat kendaraan, bahkan jalan kebo aja belum ada. walaupun begitu tapi alhamdulillah aku terlahir dengan normal.

Sebelum kita melanjutkan tentang aku, aku akan bercerita sedikit tentang kampung kelahiran aku, dimana kampung Balandongan itu terletak di sebuah tebing kaki gunung ciremai, dikarenakan tebing jadinya susah buat jalan kendaraan, sampe-sampe buat tiang listrik aja PLN kesusahan, untuk menuju ke jalan raya saja harus berjalan kaki sekitar 1 jam perjalanan normal dengan mengelilingi tebing-tebing dan sungai-sungai yang semuanya masih alami.

Rumah orangtua aku terletak tepat di pinggir tebing, jadinya kalau melihat ke bawah pada saat musim cerah hamparan kota Majalengka semuanya terlihat jelas, bahkan bisa melihat sebagian kabupaten Sumedang, bukan hanya itu, kita juga bisa melihat keberadaan kampung aku dari bawah karena di pasang lampu di belakang rumah tapi sayangnya hanya malam hari aja terlihatnya karena lampunya cuma nyala pada malam hari saja dan itupun bukan PLN tapi PLTA pribadi.

Aku teringat semasa kecil aku, jikalau datang bulan suci Ramadhan, aku selalu merengek-rengek ke kakek atau ke nenek aku untuk di buatkan bebeledugan (ini sebuah mainan yang terbuat dari bambu, yang di potong-potong sepanjang 1 Mtr atau 3 ruas babu dengan diameter seukuran pipa 6-10 inci, kemudian bambu tersebut di lubangi dari ujung depan dan di sisakan bagian belakang, kemudian memasukan karbit ke dalamnya dari lubang kecil dan di tutup beberapa saat, kemudian di sulut dengan api dan menghasilkan suara seperti tembakan meriam dalam perang). biasanya aku di buatkan oleh kakek aku bebeledugan sekitar 100 buah yang semuanya sudah tertata rapih di belakang rumah aku di arahkan ke kota majalengka dan sepanjang bulan Ramadhan 1 jam sebelum berbuka puasa aku nyalakan untuk memeriahkan bulan suci Ramadhan. Karena posisi rumah aku di tebing kaki gunung ciremai jadi suara bebeledugan itu sampe menembus semua wilayah majalengka, terkadang aku di marahin karena aku menyalakan bebeledugan ketika orang istirahat seperti waktu sahur. Itulah sekilas tentang kampung kelahiranku, kita lanjutkan ke pembahasan tentang aku.

Aku dilahirkan sebagai anak ke dua dari pasangan suami istri ayahanda KH. Ahidin Mujtahidin & Ibunda Hj. Ipak Kholifah, dan aku memiliki kakak perempuan Imas Mas'udah, dan memiliki dua adik perempuan dan laki-laki, yang perempuan namanya Eno Nurul Milah dan yang laki-laki namanya Iyan Sufyan Haris.

Kakak perempuan aku Imas Mas'udah dia sudah menikah dengan Ustd. Saeful Bahri. S.Ag dan sudah memiliki dua anak yaitu anak pertama perempuan Nida Nahdiyah (12th) dan anak ke dua laki-laki Muhammad Abdul Zidan (6th) dan mereka tinggal di daerah kabupaten Subang. sedangkan adik perempuanku Eno Nurul Milah dia juga sudah menikah dengan Ustd. Asep Harmaen dan sudah memiliki dua anak, anak pertama perempuan Nazwa Ajlina Nurazizah (7th) dan anak ke dua Muhammad Rummy 3(th), kemudian adik terakhir aku Iyan Sufyan Haris dia masih melanjutkan pendidikanya di UIN Malang tingkat 2. itulah sekilas tentang keluarga besar aku.

Karena keluarga aku adalah keluarga priyai, maka doktrin dan cara pengarahan kelimuanpun hanyalah sebatas doktrin-doktrin kepesantrenan, apalagi orang tua tidak memiliki latar belakang di pendidikan formal, secara otomatis dalam memberikan pengerahan keilmuan kepada anak-anaknyapun sesuai kapasitas pengetahuan mereka. begitupun dengan aku, aku hanya di didik tentang kepesantrenan sejak kecil aku sudah kenalkan dengan kelimuan-kelimuan pesantren salafy yang hanya mengkaji tentang kitab-kitab kuning.

Ada pengalam menarik ketika aku masih kecil, karena bapak aku adalah seorang yang pandai dalam memahami al-Fiyah Ibnu Malik sampai-sampai akupun di suruh untuk menghapalkan nadzom al-Fiyah, dan jika aku hapal satu nadzom maka ibu aku mengasih aku uang 1000 rupiah, kenapa aku ga minta 100.000 rupiah ya...

Pada tahun 1989 aku mulai masuk SD (Sekolah Dasar), waktu itu belum begitu memasyarakat pendidikan TK (Taman Kanak-Kanak), apalagi aku bertempat tinggal di sebuah dusun, walaupun sekarang ada tapi tetap harus menempuh perjalanan yang jauh makanya aku langsung ke SD tanpa TK terlebih dahulu. Aku bersekolah SD di SDN Mukti Saluyu desa Argalingga, sebelah utara kampung aku dengan jarak 3km, padahal desa kamupng aku adalah Sukadana tapi karena perjalanannya lebih aman karena ga terlalu mendaki ke desa Argalingga jadi semua orang dari dusunku bersekolah ke desa Argalingga dan jaraknyapun ampir sama 3km. SDN Mukti Saluyu berada tepat di bawah kaki gunung ciremay bahkan aroma gunung ciremay lebih terasa di sana karena di simpang jalan SDN Mukti Saluyu sudah banyak pohon-pohon cemara, bahkan guru aku sering mengajak murid-muridnya untuk mengadakan olahraga ke gunung ciremay karena jaraknya yang begitu dekat SDN Mukti Saluyu.

Sejak tahun 1989 sampai 1995 selama 6 tahun aku berjalan kali untuk bersekolah sejauh 3km selama 2 jam perjalanan, dengan jalan seadanya. masuk sekolah jam 08:00 aku berangkat dari rumah jam 06:00., pulang sekolah jam 11:00 sampe rumah jam 13:00 itulah aktifitas sekolah aku setiap hari kecuali hari libur. Di kala musim penghujan aku ganti sepatu aku dengan sandal jepit karena jika memakai sepatu tidak mungkin sepatu aku kering karena jalan yang berlumpur seperti berjalan di sungai lumpur, dan di kala musim kemarau juga aku harus jalan hati-hati karena jalanan berdebu, kalau tidak hati-hati semua pakaian aku pastilah kaya terkena sunstorm. tapi walaupun demikian, aku tetap semangat sekolah dan ga pernah sekalipun aku bolos sekolah dan itu semua juga atas dorongan orang tua yang keras dalam pendidikan.

Aku punya cerita menarik sewaktu di SD, di samping aku alhamdulillah selalu mendapatkan juara prestasi sama juara tabungan aku juga selalu mendapatkan juara kesehatan, aku merasa aneh aja karena aku mandi pagi paling pantangan, aku hanya mengoleskan Citra pada kaki dan tangan aku biar terlihat sudah mandi tapi ternyata guru-guru nya bisa di boongin makanya selalu juara kerapihan juga, lumayan kan dapet gratisan 20 buku sama 4 pulpen dari sekolah setiap smester.

Selain itu bapak aku terlalu kejam, dalam masalah pendidikan, dia ga mau menandatangani rapot jiga aku tidak pringkat 1, suatu hari aku mendapatkan peringkat 3 dan dia sama sekali tidak mau menandatangani rapot aku sampe akhirnya aku menyuruh ibu untuk menduplikat tanda tangan bapak yang super cool itu.

Pada tahun 2005 di penghujung sekolah SD ku, dalam masa liburan panjang 2 bulan menunggu kelulusan sekolah SD, aku di pesantrekan ke Pondok Pesantren al-Hikmah Cijiking kabupaten Majalenga. aku begitu dekat dengan keluarga pesantren al-Hikmah di karenakan bapak aku adalah alumni pondok pesantren ini, bahkan mereka meminta aku setelah lulus SD untuk mesantren di pesantren ini, dan akupun semangat untuk mesantren di pondok ini.

Ada kisah menarik selama aku mesantren di pesantren al-Hikmah ini yang membuat semangatku membara untuk memilih pesantren ini setelah kelulusan SD aku yaitu aku budukan (penyakit kulit semacam koreng, biasanya bernanah dan itu sangat gatal), alasanya adalah kata orang-orang kalau seorang santri terkena penyakit buduk berarti ilmunya sudah terserap, begitupun aku memikir karena baru saja beberapa minggu aku mesantren sudah terkena buduk. tapi setelah aku beranjak dewasa aku mulai sadar kenapa aku budukan padahal di rumah tidak pernah terjangkit budukan dan itu di sebabkan oleh air buat mandi sehari-hari yang aku pergunakan pada saat mesantren di pesantren itu yaitu berupa air sawah yang terkadang jika para petani menanam padi maka airnya tidak bisa di pakai karena bercampur lumpur sawah, bahkan terkadang aku liat bebek berkeliaran di sawah yang airnya aku pergunakan untuk mandi, makanya aku budukan...hehe

Akhirnya surat tanda belajar SD pun aku terima, dan aku sudah menantikan untuk mesantren lagi di pesantren al-Hikmah Cikijing tapi alhamudlillah bapak aku sudah mulai gahol dengan dunia luar, dia memiliki teman yang anaknya mau di pesantrenkan tapi ga mau sekolahnya putus dan bapak akupun bertanya kepadaku "mampu tidak jika mesantren sambil sekolah?" aku jawab dengan dengan polosnya "ah kecil". dan tanpa basa basi lagi bapak aku mengajak aku ke pesantren yang ada pesantren dan ada sekolahnya. Sepanjang perjalanan aku terlelap tidur karena aku pikir pesantren itu dimana-mana sama kaya pesantren al-Hikmah, tapi setelah sampe pesantren yang di maksud aku tercengang kaget melihat pesantren yang begitu megah dan ribuan santrinya yaitu Pondok-Pesantren Cipasung Singaparna kabupaten Tasikmalaya, apalagi di pimpin seorang Ulama besar KH. Ilyas Ruhiyat sebagai Ro'is Amm Nahdotul Ulama Indonesi, aku terasa seakan mimpi karena aku pernah lihat beliau di dalam TV.

Pada tahun 2005 sampai 2008 aku resmi sebagai santri Pondok Pesantren Cipasung dan bersekolah di SLTP Islam Cipasung. sebelum meninggalkan pesantren bapak aku mengunjungi pimpinan pesantren dan dia menitipka aku, karena aku merasa di titipkan oleh bapak kepada beliau akupun tiap minggu menyempatkan diri bertemu dengan beliau di kala beliau memiliki waktu senggang, selain itu akupun selalu mendekatkan diri dengan pimpinan-pimpinan pesantren lainya seperti KH. Abun Bunyamin Ruhiyat, KH. Dudung Abdul Halim Ruhiyat, KH. Ubaidilah Ruhicat, KH. Acep Adang dan para kiyai-kiyai pengajar lainya.

Walaupun hanya 3 tahun aku di pesantren Cipasung tapi sampe sekarang kelimuan di sana lebih terasa dalam diri aku, dan begitu banyak kitab yang aku hapalkan di sana, dan begitu banyak kitab yang aku kaji di pesantren sana. Benar ibnu Hajar bilang "belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu dan belajar di waktu dewasa bagaikan mengukir di atas  air" alhamdulillah aku rasakan semua itu sekarang, dan kelulusan SLTP pun  aku dapatkan sampai aku putuskan untuk keluar dari pondok pesantre Cipasung pada tahun 2008 bersamaan setelah kelengserannya Presiden Republik Indonesia Bapak H. Suharto

Pada tahun 2008 aku putuskan untuk melanjutkan di pondok pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur dengan mengambil sekolah di SMU Abdul Wahid Hasyim. Aku merasa hampa mesantren di sana, karena sistem pengajian yang berbeda dengan pesantren sebelumnya membuat semangat aku berkurang, sampe aku memutuskan untuk mengaji di luar pesantren lain tapi aku terpikir akan sekolah aku akan terbengkalai, dan akupun mulai survey pesantren seperti Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur dan Pesantren lainya di daerah kabupaten Kediri dan kabupaten Jombang, dan sampailah keluhan itu ke telinga bapak aku sampai akhirnya bapak aku putuskan untuk pindah pesantren dan sekolah pada tahun 2009.

Pada tahun 2009 aku di pindahkan mesantren di pesantren kakak aku di Bandung Jawa Barat pesantren al-Muhajirin dan bersekolah di SMU Karya Budi kabupaten Bandung Timur. dan akupun merasa asing di sana dengan semua santrinya hanya Mahasiswa dan di sekolah aku cewek-cewek pada keliaran tanpa memakai kerudung bahkan paha-paha bergentayangan jauh beda ketika aku mesantren di pesantren-pesantren sebelumnya, jangankan liat paha liat cewe santriawati aja aku ga pernah merhatiin. tapi aku mulai merasa asyik dengan lingkungannya, dan akupun mulai memperbaiki sekolah aku karena hanya itu satu-satunya cara biar membuat semangat. dan akupun dengan percaya diri yang kuat walau baru seminggu sekolah di sana, aku mencalonkan diri sebagai Ketua OSIS dan alhamdulillah jadilah ketua OSIS.



to be continue




0 komentar:

Posting Komentar